Bencana kekeringan dan banjir yang bergantian melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dinilai saling berkaitan erat. Fenomena alam yang berulang ini disinyalir kuat merupakan dampak langsung dari semakin rusaknya kondisi kawasan tangkapan air di daerah tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati menyoroti bahwa alih fungsi serta kerusakan vegetasi telah merusak ekosistem penting ini. Area yang seharusnya berfungsi alami penyerap air kini tidak mampu lagi menjalankan perannya secara optimal.
Dalam kondisi normal, kawasan tangkapan air bertugas menyimpan cadangan air bersih saat musim kemarau. Selain itu, vegetasi yang rimbun juga berguna menahan derasnya limpasan air agar tidak langsung memicu banjir sewaktu musim hujan tiba.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, mengungkapkan bahwa tingkat kerusakan tutupan hijau di beberapa titik kini sudah sangat memprihatinkan. Penurunan kualitas lingkungan ini berpotensi memperlumpuh ketahanan air di wilayah Pati.
Dampak buruk dari hilangnya vegetasi ini makin nyata dirasakan warga, terutama ketika masa kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya. Pasokan air tanah semakin menipis sehingga ancaman krisis air bersih menjadi sulit dihindari.










Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!