Rencana pengembangan compressed natural gas (CNG) Merah Putih sebagai pengganti LPG 3 kilogram dinilai tidak bisa diimplementasikan secara terburu-buru. Penerapan bahan bakar alternatif ini dianggap kurang realistis jika harus langsung diberlakukan secara merata di seluruh pelosok Indonesia tanpa pertimbangan matang.
Kepala Pusat Energi dan Pangan Indef, Abra Talattov, menjelaskan bahwa pemanfaatan CNG untuk skala rumah tangga pada dasarnya merupakan peluang strategis yang patut disokong. Penggunaan gas alam terkompresi ini memiliki potensi besar untuk menjadi solusi energi alternatif masa depan.
Inisiatif pengembangan CNG domestik dinilai penting lantaran ketergantungan Indonesia pada impor LPG tergolong sangat tinggi. Tingginya angka impor tersebut membuat ketahanan energi nasional rentan terguncang oleh fluktuasi harga pasar global, gejolak nilai tukar mata uang, hingga risiko hambatan distribusi.
Oleh sebab itu, optimalisasi penggunaan sumber daya gas dari dalam negeri diyakini mampu memperkokoh kemandirian serta kedaulatan energi nasional. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan energi luar negeri secara berangsur-angsur.
Meskipun memiliki prospek yang menjanjikan, Abra mengingatkan agar pemerintah tetap berhati-hati sebelum menerapkan kebijakan ini secara luas. Kesiapan pasokan gas, ketersediaan infrastruktur pendukung, tingkat keekonomian bagi masyarakat, hingga standar keselamatan penggunaan harus dipastikan benar-benar matang.










Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!