Bank Indonesia (BI) menyatakan perubahan strategi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saat ini, intervensi yang dilakukan bank sentral melalui pasar spot porsinya menyusut dan hanya berkisar 30 persen dari seluruh total instrumen intervensi yang dikerahkan.

Langkah pengurangan porsi intervensi pasar spot ini diambil bukan tanpa alasan. Bank sentral menilai penggunaan instrumen intervensi secara langsung di pasar spot memakan biaya yang relatif mahal dan berpotensi memberikan dampak tergerusnya cadangan devisa negara jika terus diandalkan.

Dari Kuliah Umum ke Aksi Nyata, Sekjen PIKI Dorong Mahasiswa IAKN Toraja Berprestasi dan Mandiri
BACA JUGA
Dari Kuliah Umum ke Aksi Nyata, Sekjen PIKI Dorong Mahasiswa IAKN Toraja Berprestasi dan Mandiri Baca Selengkapnya

Keterangan tersebut ditegaskan oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, di tengah meningkatnya tekanan terhadap mata uang Garuda. Sebagai bentuk penyesuaian, BI kini memilih untuk lebih mengoptimalkan berbagai instrumen moneter lainnya ketimbang bergantung penuh pada intervensi pasar spot.

Adapun pergerakan mata uang nasional kembali menunjukkan tren pelemahan. Mengutip data perdagangan Bloomberg pada Senin (28/9/2026), nilai tukar rupiah terperosok sebesar 0,42 persen atau turun 75 poin, sehingga posisinya tertahan di level Rp 17.978 per dolar AS.

Posisi ini memperlihatkan penurunan dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Jumat (25/9/2026) pekan sebelumnya yang berada di level Rp 17.903 per dolar AS. Pelemahan tersebut menandakan rupiah kini kian mendekati kembali batas psikologis penting, yakni Rp 18.000 per dolar AS.